
Kenapa Sih Suka Main Sembunyi-Sembunyi? Emangnya Kita Salah Apa?
Kenapa Sih Suka Main Sembunyi-Sembunyi? Emangnya Kita Salah Apa? Yo guys! Pernah gak sih ketemu orang atau sekelompok orang yang sukanya ngelakuin project atau hal-hal yang mereka anggap penting secara sembunyi-sembunyi? Kita udah terbuka, kerja sama dengan jujur, eh malah mereka kayak ninja, gerak diam-diam, gak ada kabar, tiba-tiba udah jadi aja sesuatu tanpa ngelibatin kita. Rasanya pasti kesel, sedih, campur bingung, ya gak? Tapi, jangan buru-buru merasa diri kita yang salah. Yuk kita bahas bareng Komunitas Sambal, kenapa ada jenis orang atau kelompok yang suka main kucing-kucingan alias main sembunyi-sembunyi kayak gini?

1. Apakah Mereka Anggap Kita Kurang Kompeten?
Bisa jadi ya guys, salah satu alasan mereka sembunyi-sembunyi itu karena ngerasa kita gak cukup ‘mampu’ atau ‘ngerti’ apa yang lagi mereka kerjain. Ini bisa jadi kesalahpahaman. Mungkin aja, mereka ngira kita bakal menghambat atau malah bikin ribet proses kerja mereka. Tapi, jangan keburu down! Itu bukan berarti kita gak kompeten. Kadang, orang-orang punya standar atau ekspektasi yang beda, atau mungkin mereka sendiri yang gak ngerti kalo kita sebenarnya bisa banget ngasih kontribusi. Kalau kayak gini, komunikasi adalah kunci, guys!

2. Ada Ketakutan untuk Berbagi Spotlight
Beberapa orang atau kelompok suka gerak sendiri karena takut kalo harus berbagi spotlight. Mereka ngerasa, kalau ada orang lain yang terlibat, mereka gak bakal dapet full recognition. Ini murni soal ego dan pengakuan. Orang kayak gini ngerasa makin keren kalau dia yang ngerjain semuanya sendiri, dan akhirnya bisa bilang, “Ini karya gue!” Padahal, dalam banyak kasus, justru kolaborasi yang bikin sebuah project jadi lebih keren.

3. Takut Kita Minta Duit atau Reward?
Nah, ini juga sering jadi alasannya. Mereka mungkin sembunyi-sembunyi karena takut kita bakal minta reward, komisi, atau bagian duit dari project itu. Mereka ngira, kalau kita tahu semua detailnya atau ikutan terlibat, kita bakal nuntut bagian dari hasil. Padahal, belum tentu juga kita punya maksud kayak gitu, kan? Gak semua kolaborasi harus soal duit atau reward, tapi sayangnya mereka udah duluan berpikir negatif. Jadi, mereka memilih untuk jalan sendiri demi “ngamankan” hasilnya.

4. Kurangnya Trust
Sering kali, orang suka sembunyi-sembunyi karena ada rasa gak percaya. Bisa aja mereka mikir, “Aduh, kalo ngajak dia, nanti bocor deh,” atau “Kalo gue kasih tahu, dia malah gak sesuai harapan.” Nah, di sinilah masalah kepercayaan muncul. Kalau situasinya kayak gini, penting banget buat kita bikin clear kalau kita orang yang bisa dipercaya. Tunjukin lewat sikap, jangan cuma kata-kata. Tapi inget, trust itu jalan dua arah. Kalo mereka juga gak kasih kita kesempatan buat nunjukin, ya agak susah juga, kan?

5. Apa Sih yang Salah dari Kita?
Kadang kita mikir, “Apa kita ada yang salah ya sampe mereka kayak gitu?” Well, gak selalu. Bisa jadi bukan soal salah atau benar. Kadang mereka sembunyi-sembunyi karena faktor internal mereka sendiri—bisa soal strategi, kompetisi, atau bahkan insecure. Bisa jadi, mereka ngerasa kita terlalu baik atau lebih maju, makanya mereka gak mau kalah saing.

6. Sedih Gak Sih Digituin?
Ya jelas sedih! Gimana gak? Kita udah kasih effort buat selalu terbuka, pengen kerja sama, saling dukung dan gak mau main sembunyi-sembunyi. Tapi, malah kita yang ditinggal di belakang tanpa penjelasan. Rasa sedih itu muncul karena kayaknya mereka gak menghargai keberadaan kita. Rasanya kayak di-ghosting, padahal kita masih ada di situ, siap untuk bareng-bareng. Sedih karena kita juga punya niat baik buat sama-sama sukses, tapi malah dianggap angin lalu.
Selain sedih, kadang juga timbul rasa gak percaya diri. Mungkin kita mikir, “Apa kita emang gak sepenting itu ya buat diajak bareng?” atau “Apa kita ada yang kurang sampe gak dilibatkan?” Meskipun jawabannya gak selalu tentang kita, tapi rasa itu tetap bisa muncul.
Yang bikin makin sedih, kita jadi ngerasa kurang dihargai. Padahal, kolaborasi itu biasanya dibangun atas dasar saling percaya dan saling menghargai. Dan saat mereka main sembunyi-sembunyi, rasanya kayak dikhianati tanpa sebab. Kita pengen dilibatkan, bukan cuma buat ikut-ikutan, tapi karena kita pengen jadi bagian dari proses dan hasil.

7. Main Sembunyi-Sembunyi: Gimana Kita Harus Menghadapinya?
Nah, setelah tau alasan-alasannya, gimana dong cara kita menghadapinya? Yuk simak beberapa ide dari Komunitas Sambal
- Bersikap Terbuka dan Transparan: Kasih contoh dengan terus bersikap terbuka. Kalau kita ngerjain sesuatu, undang mereka buat terlibat. Ini bisa bikin mereka sadar kalau gak perlu sembunyi-sembunyi.
- Bicarakan dengan Santai: Kadang masalah cuma soal miskomunikasi. Coba ajak ngobrol dengan santai, “Eh, kenapa ya project ini gak bareng-bareng? Kan bisa lebih seru kalo kerjasama bareng.”
- Buktikan Kompetensi Kita: Kadang orang baru percaya kalo udah liat bukti. Jadi, terus aja tunjukin skill dan keandalan kita lewat project yang kita kerjain sendiri. Lama-lama, mereka bakal ngeliat kita layak buat dilibatkan.
- Tetap Profesional: Walaupun mereka main sembunyi-sembunyi, jangan terjebak buat balas dengan cara yang sama. Tetap profesional, konsisten dengan niat baik dan tunjukkan integritas kita. Jangan biarkan tindakan mereka ngegoyangin prinsip kita. Inget guys, anak muda harus punya prinsip yang benar.

Kesimpulan
Main sembunyi-sembunyi, mungkin gak selalu soal kita. Bisa jadi itu lebih tentang mereka—rasa kurang percaya, mungkin takut tersaingi, atau masalah ego. Atau, bisa aja mereka takut kita minta reward atau bagi hasil dari project itu. Tapi, jangan karena mereka sembunyi-sembunyi, kita jadi kehilangan arah. Tetap positif, fokus dengan apa yang kita kerjain, dan terus tunjukin kalo kolaborasi dan keterbukaan jauh lebih powerful daripada kerja sendirian. Kalau mereka masih aja main sembunyi, ya udah, yang penting kita tetap jalan di track kita sendiri, dan tetap konsisten dengan niat baik kita!




