
Gelar Bukan Feodal, Bro…
Gelar Bukan Feodal, Bro… Yo guys! Akhir-akhir ini makin sering aja muncul suara-suara nyinyir dan subyektif di timeline. Katanya, orang yang nulis “Prof. Dr.” di depan nama, atau yang masih pake gelar kebangsawanan semacam “Raden Roro” dan segala jenisnya, itu feodal. Agak shocked juga nyimak opini kayak gitu, karena based on apa opininya? Sitasinya apa? Ada jurnalnya? Udah siap emangnya di kejar pertanyaan sama para Profesor Doktor dan mereka yang mencantumkan gelar? Hmm… interesting take, but let’s unpack this together.

Pertama-tama, yuk kita pisahin dulu mana gelar akademik dan mana gelar kebangsawanan!
- Gelar akademik (kayak Prof., Dr., Ir., dan sebagainya) itu hasil kerja keras di dunia pendidikan. Nggak jatuh dari langit. Lo harus riset, nulis, gagal berkali-kali, terus survive di dunia akademia yang keras.
- Gelar kebangsawanan? Iya, itu warisan budaya. Tapi budaya nggak sama dengan feodalisme, ya bestie. Orang-orang yang pakai gelar itu mostly cuma ngasih konteks sejarah dan identitas. Sama aja kayak lo bangga pake marga Batak, Sunda, atau nama Arab yang panjang banget.
So, ketika ada orang bilang, “Ih, gelar-gelar itu, feodal banget deh,” sebenarnya mereka tuh lagi mengoperasikan filter subjektifitas overdrive.

Gelar Bukan Feodal: Bro, feodal atau enggak tuh bukan dari gelar, tapi dari sikap. Paham?
Kalau lo Dr., tapi humble, ngajarin orang, open-minded – lo nggak feodal. Tapi kalau lo netizen tanpa gelar apa-apa, tapi hobi ngerendahin orang dari kasta pendidikan dan kebudayaan tertentu, well… that’s feodal-in-your-own-way. Classist disguised as woke.
Tapi RA Kartini juga Raden Ajeng. Gimana Tuh?
Umm, BIG NO. RA Kartini itu case paling solid buat lo ngerti bahwa asal-usul bangsawan nggak otomatis bisa dianggap pemikiran feodal.
Justru karena dari keluarga ningrat, beliau punya akses pendidikan, dan dari situ muncul pemikiran anti-feodal yang sampai sekarang jadi fondasi gerakan perempuan Indonesia. Jadi, lo mau bilang RA Kartini “feodal” juga? Good luck explaining that to your feminist circle. Xoxo…
“Panggil Aku Kartini Saja!” — Beneran Kartini Tolak Gelar Raden Ajeng?
Lagi ramai nih, orang-orang bilang kalau RA Kartini itu sebenernya menolak gelar “Raden Ajeng” karena dianggap simbol feodalisme. Terus muncul deh kutipan yang katanya dari Kartini:
“Saya tidak ingin lagi dipanggil Raden Ajeng. Gelar itu hanya dinding pemisah…”
Wah, sounds woke banget, ya? Tapi bentar dulu…
Kita Telusurin Sumbernya Yuk!
Asli, setelah dicek di surat-surat RA Kartini yang terbit dalam buku Door Duisternis tot Licht (1911) dan terjemahannya di Habis Gelap Terbitlah Terang (Balai Pustaka, 1938), gak ada tuh kalimat kayak gitu.
Yang paling dekat cuma ini:
“Panggil saya Kartini saja, itu nama saya.”
— Surat Kartini ke Estelle Zeehandelaar, 1899.
Itu pun konteksnya personal dan santai, kayak kita bilang “Gak usah panggil saya Bapak/Ibu deh, santai aja.”
Terus Yang Bilang Kartini Anti-Gelar Itu Siapa?
Nah, sebagian besar interpretasi kayak gitu datang dari bacaan modern, salah satunya dari Pramoedya Ananta Toer lewat bukunya Panggil Aku Kartini Saja. Pram memang mengangkat semangat perlawanan Kartini terhadap struktur sosial feodal, tapi… dia nggak pernah bilang Kartini anti-gelar secara eksplisit. Itu tafsir, bukan kutipan.
Jadi, Apa yang Salah?
Kita perlu pisahin:
Kutipan langsung = fakta sejarah.
Parafrase/interpretasi = sudut pandang penulis modern.
Mengutip sesuatu yang enggak pernah ditulis sama Kartini sendiri lalu menggunakannya buat ngegas orang lain soal “feodal” justru jadi gimana gitu ya? Lo boleh aja anti-feodal, tapi gak perlu judging orang dari gelar dan background mereka tho?
Gelar akademik, gelar bangsawan, atau gelar kerja — itu semua bagian dari identitas sosial. Pake gelar selama bukan gelar abal-abal, gak masalah kok. Yang penting bukan semata-mata gelarnya, tapi apa yang lo lakukan dengan pengetahuan dan pengaruh lo.
Kartini? Beliau tetap Raden Ajeng. Tapi juga tetap Kartini, perempuan progresif yang bawa cahaya buat semua, gak peduli status.
So…Woke boleh, tapi jangan sampai salah arti. Apalagi salah niat.

Gelar Bukan Feodal: Intinya?
Gelar, baik itu gelar kebangsawanan atau pun akademik, bukan simbol penindasan. Gelar itu identitas, pencapaian, dan kadang juga budaya. Sah-sah aja kok, as long as gelar yang dicantumkan bukan gelar abal-abal asal comot yang berujung pidana. So…Kalo lo alergi sama gelar, coba cek dulu… lo beneran anti-feodal, atau karena lo iri belum punya gelar apa-apa dan kesel ngeliat orang lain punya? #JustAsking
Note to self: sebelum ngetik “feodal” di kolom komen, make sure lo ngerti sejarah, konteks, dan definisinya. Jangan asal bunyi.



