
Nyawa Rakyat Kecil Terlindas Roda Kekuasaan!!
Nyawa Rakyat Kecil Terlindas Roda Kekuasaan!!
SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, BAPAK PRABOWO SUBIANTO
Dengan hormat,
Saya, Rr. Kori Soenarko (Oie) selaku Founder Komunitas SAMBAL (Solidaritas Anak Muda Berbasis Akhlak dan Loyalitas)— sebuah komunitas seni budaya lintas generasi dan profesi, yang sejak awal berangkat dari semangat solidaritas, akhlak, dan loyalitas.
Bapak Presiden,
Bagi saya, seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang nurani, tentang keberpihakan pada kemanusiaan, tentang solidaritas, akhlak, loyalitas dan tentang merawat keadilan di tengah masyarakat. Dari spirit itulah, saya terpanggil untuk menyuarakan duka yang sangat mendalam dan kegelisahan atas peristiwa perih yang menimpa rakyat kecil di negeri ini.

Bapak Presiden,
Pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, seorang driver ojek online bernama Affan Kurniawan meregang nyawa setelah dilindas oknum yang secara brutal mengemudikan kendaraan taktis Brimob di tengah aksi demo di Jakarta.
Menurut keterangan rekan-rekan sejawatnya, almarhum bukan sedang ikut aksi demo, bukan pula membuat keributan. Ia hanya sedang bekerja, mengantarkan pesanan makanan kepada pelanggan.
Tragis, Affan seorang rakyat kecil, yang hanya ingin menunaikan kewajiban kerja untuk sesuap nasi justru harus kehilangan nyawa di bawah roda oknum aparat. Bukankah aparat seharusnya melindungi rakyat??
Kepergian Affan secara tragis, mungkin akan ditulis dalam laporan resmi sebagai “kecelakaan.” Tetapi bagi saya, ini adalah pembunuhan biadab—lahir secara prematur dari cara pandang yang semakin menempatkan rakyat kecil hanya sebagai angka, bukan manusia.
Saya menyaksikan ironi yang begitu menyakitkan:
• Saat rekan ojol mencari nafkah, malah dilindas oleh oknum yang mengemudikan kendaraan taktis Brimob secara brutal di jalan raya ditengah aksi demo, sementara pejabat negara berjoget gembira menikmati tunjangan dan fasilitas mewah tiap bulan.
• Saat rakyat hidup pas-pasan bahkan tergolong miskin, wakil rakyat justru menikmati fasilitas mewah dan tunjangan yang dikeruk dari uang pajak rakyat.
• Saat harga kebutuhan pokok terus meroket, rakyat disuruh “bersabar”, sementara pejabat bergelimang fasilitas mewah.
• Saat kritik dan aspirasi adalah tanda cinta pada negeri, rakyat justru dibungkam, dipersekusi, bahkan dikriminalisasi oleh para oknum negeri.

Bapak Presiden,
Affan adalah simbol dari wajah rakyat kecil yang setiap hari bekerja keras namun tetap tak dianggap. Ia adalah simbol betapa nyawa rakyat bisa hilang begitu saja, tanpa ada kepastian keadilan. Ia adalah simbol jurang yang kian menganga antara rakyat dan penguasa.
Saya menulis surat ini tidak untuk menyerang pribadi siapa pun, melainkan untuk menggugah nurani. Dengan segala hormat, saya ingin mengingatkan, bahwa hukum tabur tuai tidak pernah salah: jika ketidakadilan terus bertumbuh, rakyat pada akhirnya akan bergerak mencari keseimbangannya sendiri dalam senyap—dengan keikhlasan dan doa yang justru semakin mempercepat proses tabur tuai itu.

Bapak Presiden,
Bapak menyampaikan dalam pidato, bahwa rakyat diperbolehkan memberikan aspirasi yang sah. Saya tidak menuntut yang muluk, hanya meminta martabat untuk rakyat kecil. Saya hanya ingin aparat belajar menahan diri, agar nyawa manusia tidak lagi dianggap lebih murah dari roda kendaraan taktis. Saya hanya ingin negara kembali berpihak pada kemanusiaan, bukan pada kekuasaan yang menindas.
Dan di atas semua itu, saya meminta Bapak sebagai Presiden Republik Indonesia untuk bertindak tegas.
Pertama, hentikan segala bentuk kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepada rakyat, karena tidak ada negara yang beradab jika nyawa manusia lebih murah daripada harga kendaraan.
Kedua, inisiasilah langkah nyata untuk memangkas fasilitas mewah dan tunjangan berlebihan yang tidak masuk akal bagi mereka yang menyebut dirinya ‘wakil rakyat’ namun justru menginjak harga diri rakyat.
Ketiga, bersihkan kabinet dan birokrasi dari pejabat-pejabat yang hanya pandai beretorika namun gagal bekerja.
Dan terakhir, berantaslah korupsi sampai ke akar-akarnya—karena korupsi adalah pengkhianatan tertinggi terhadap bangsa. Jika perlu, berikan hukuman paling berat hingga ke hukuman mati bagi para koruptor yang merampok masa depan rakyat

Bapak Presiden,
Bagaimana mungkin mereka yang digaji dari keringat rakyat malah tega menyebut rakyat “tolol”? Bagaimana mungkin mereka yang mendapat kemewahan dari pajak rakyat justru bermanja-manja mengeluhkan macet di jalan raya, sementara jutaan rakyat kecil rela macet dan bersusah payah setiap hari demi mencari nafkah?

Bapak Presiden,
Inilah saatnya Bapak mengambil keputusan bersejarah—mengembalikan kehormatan rakyat kecil. Saya meminta Bapak Presiden untuk mengambil langkah nyata sebagai orang nomor satu di negeri ini, agar uang rakyat kembali untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kemewahan segelintir elit, membela wong cilik dan membangun negeri kita tercinta menjadi aman dan sejahtera.
Saya menulis surat ini dengan tangis dan duka yang sangat mendalam, dengan amarah, namun disertai juga dengan cinta pada negeri. Karena saya percaya: Indonesia, ada! Indonesia tidak boleh mati, demokrasi tidak boleh dikubur, dan kemanusiaan tidak boleh terus diinjak.
Salam hormat,
Rr. Kori Soenarko (Oie)
Founder Komunitas SAMBAL
(Solidaritas Anak Muda Berbasis Akhlak dan Loyalitas)




