
Bukan Soal Apa yang Dibahas, Tapi Siapa yang Membahas
Bukan Soal Apa yang Dibahas, Tapi Siapa yang Membahas. Yo guys! Ada satu fase dalam hidup ketika lo akhirnya sadar, bahwa kadang yang dipermasalahkan tuh bukan soal apa yang dibahas, apa isi omongannya atau pun postingannya. Bukan topiknya. Bukan substansinya.
Tapi… siapa dulu nih yang ngomong dan ngebahas?!
Terkadang lucu tapi miris, ini kejadian di mana-mana.
Circle tongkrongan, grup keluarga, komunitas, kantor, bahkan social media yang katanya “open minded” lhooo….
Karena faktanya, ada orang-orang yang dari awal memang udah memutuskan untuk nggak suka sama seseorang. Jadi apa pun yang dilakukan orang itu, akan selalu salah di mata mereka. Hehe…
Mau ngomong A, dipelintir.
Ngomong B, dibilang nyindir atau memprovokasi.
Diam, dianggap sombong.
Aktif, dianggap cari perhatian.
Bahkan kadang ya, dan ini lucu sih…foto langit biru aja bisa dipermasalahkan kalo yang motret, share atau posting foto adalah orang yang udah lebih dulu mereka blacklist secara emosional. Kurang lebih biasanya komennya kayak gini:
“Apaan sih upload beginian?”
“Penting banget ya?”
“Cringe.”
“Sok aesthetic.”
Padahal kalo yang melakukan itu adalah orang favorit mereka? Wuiiihh…bisa beda responnya.
Caption random tiga kata aja bisa dianggap deep makna fotonya. Wkwkwk…….

Fenomena “Selective Objectivity”
Sebagian orang sebenarnya bukan sedang mencari mana yang benar atau salah. Mereka cuma lagi cari pembenaran untuk mempertahankan rasa tidak sukanya.
That’s it.
Makanya jangan heran kalo orang yang mereka suka selalu diberi toleransi,
sementara orang yang mereka gak suka selalu dicari celahnya.
Ini bukan soal logika lagi.
Ini soal bias emosional.
Dan manusia sering banget merasa dirinya objektif, padahal sebenarnya sedang menjalankan personal agenda yang dibungkus opini.
Kalau sudah begini, debat juga percuma.
Karena yang sedang bermain bukan data dan fakta, tapi ego dan preferensi sosial, yang balik lagi ujungnya bukan soal apa yang dibahas, tapi siapa yang membahas.

Bukan Soal Apa yang Dibahas: Social Media Membuat Ini Makin Parah
Di era digital, orang makin terbiasa menilai siapa sebelum mendengar apa.
Lihat siapa dulu yang posting.
Lihat circle dulu.
Lihat pernah konflik apa dulu.
Baru lihat isi postingannya.
Makanya sekarang validasi sering kalah sama popularitas.
Kebenaran kalah sama vibes.
Substansi kalah sama branding sosial.
Ironisnya, banyak orang mengaku anti drama, tapi hidup dari drama persepsi.

Apakah Semua Orang Punya “Label”?
Begitu seseorang sudah ditempel label: si drama, si sok pintar, si kontroversial, si terlalu vokal, si beda sendiri, apapun itulah.
Maka apa pun yang dilakukan, akan sulit dilihat secara netral.
Dan ini bahaya. Kenapa coba? Karena ketika masyarakat mulai menilai berdasarkan “siapa” dibanding “apa”, ruang diskusi sehat perlahan mati.
Orang kadang-kadang malah jadi takut bicara atau pun menyatakan pendapatnya. Takut disalahpahami. Takut diserang bukan karena isi pikirannya, tapi karena identitas sosialnya. So guys, lagi-lagi, bukan soal apa yang dibahas, tapi siapa yang membahas.

Bukan Soal Apa yang Dibahas: Yang Penting Jaga Integritas
Makanya, kalo bisa guys, gak usah terlalu sibuk ngejar semua orang buat suka sama lo. Capek. Dan yes, impossible.
Sebenernya, yang jauh lebih penting itu adalah, apakah lo masih pegang integritas atau enggak?
Karena reputasi bisa dimainkan opini publik, tapi integritas selalu kelihatan seiring waktu. Ya gak sih?
Orang bisa aja bikin framing.
Orang juga bisa bikin narasi.
Orang bisa ngegas di depan publik seolah paling benar, padahal tanpa data dan fakta, modal bacot doank.
Tapi konsistensi karakter itu akan susah dipalsukan dalam jangka panjang.
Jadi selama lo masih tahu bahwa niat lo itu gak busuk, cara lo masih proper, omongan dan tindakan lo masih sinkron, lo nggak pakai gelar abal-abal, ya maju terus. Pantang mundur. Tetap semangat. Jangan kendor cuma karena ada orang yang memang hobi nyari alasan buat gak suka sama lo. Peduli amat lah, toh lo nggak ngemis-ngemis numpang hidup sama mereka. Ora urus!
Karena dalam hidup, kadang keberanian terbesar bukan bikin semua orang setuju sama lo, tapi tetap jadi diri sendiri tanpa kehilangan akhlak dan integritas di tengah noise sosial yang makin absurd.
At the end of the day, foto tentang langit tetap biru, meskipun ada yang bilang foto langit biru itu bukan biru tapi abu-abu, kemungkinan hanya karena mereka gak suka siapa yang memotretnya.
Karena pada akhirnya, orang yang konsisten menjaga integritas akan tetap berdiri tegak, meski diterpa opini, framing, cibiran, bahkan penghakiman sosial yang tidak adil.
— KS
Solidaritas Anak Muda Berbasis Akhlak dan Loyalitas




