Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Berjubah Alim. Ternyata Zalim. Yang bikin luka, kadang bukan orang kasar. Justru yang kelihatan paling santun.

Disclaimer dulu ya guys…

Istilah “berjubah alim” dalam tulisan ini adalah metafora. Bukan merujuk pada pakaian, profesi, agama, atau kelompok tertentu. Yang dimaksud adalah siapa pun yang membangun citra seolah berakhlak mulia, tetapi dalam tindakan sehari-hari justru berlaku zalim, tidak adil, atau memanfaatkan kebaikan orang lain. Sebab akhlak sejati tidak diukur dari penampilan, melainkan dari cara seseorang memperlakukan sesama.

Ironisnya, masih ada orang belajar mengenali wajah marah. Tapi lupa mengenali wajah yang kelihatannya kalem. Karena nggak semua kezaliman datang dengan suara keras. Ada yang datang pakai senyum. Pakai kata-kata lembut. Pakai citra baik. Bahkan kadang dibungkus dalih “demi kebaikan.”

Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Yang Ngalah, Kok Malah Kena?

Guys…Pernah lihat situasi kayak gini nggak? Seseorang memilih diam. Bukan kalah. Bukan takut. Dia cuma capek ribut. Dia mulai mengerti sudut pandang lawannya. Mau kompromi. Mau nerima keadaan. Berusaha tetap waras.

Tapi anehnya… Justru dia makin ditekan. Makin dianggap bisa dimanfaatkan. Makin dipaksa mengalah. Seolah kebaikannya adalah undangan untuk diperlakukan seenaknya. That’s not peace. That’s exploitation.

Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Alim Itu Penampilan. Adil Itu Perilaku.

Orang sering terlalu cepat percaya sama image. Rajin ibadah. Kalem. Bicara penuh kutipan. Aktif di kegiatan sosial. Semua itu baik. Tapi itu belum otomatis membuktikan seseorang berlaku adil.

Karena ukuran akhlak bukan cuma apa yang terlihat di depan publik, tapi bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas. Bagaimana dia memperlakukan orang yang memilih mengalah dan bagaimana dia memakai posisi, kuasa, atau kesempatan.

Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Jangan Salah Paham

Mengalah itu bukan salah. Memahami orang lain juga bukan kelemahan. Yang salah adalah ketika ada orang menjadikan semua itu sebagai kesempatan untuk berlaku semena-mena.

Ada orang yang mengira…

“Kalau dia diam, berarti dia setuju.”

“Kalau dia sabar, berarti dia lemah.”

“Kalau dia nggak melawan, berarti gue boleh terus menang.”

Padahal belum tentu. Bisa jadi dia hanya sedang menjaga dirinya untuk tetap memiliki akhlak.

Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Tabur Tuai Sebagai Jejak

Hidup punya cara sendiri menyeimbangkan keadaan. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak minggu depan. Tapi setiap tindakan selalu meninggalkan jejak dan apa yang ditabur, itulah yang akan dituai.

Kezaliman yang terus dibungkus citra baik tetaplah kezaliman. Dan keadilan tidak selalu datang dari manusia. Kadang datang dari waktu.

Berjubah Alim. Ternyata Zalim

Sekolah Kehidupan by KS: Berjubah Alim. Ternyata Zalim

So guys… Jangan mudah kagum pada penampilan yang berjubah alim, tapi lihatlah bagaimana seseorang memperlakukan orang yang memilih damai.

Karena orang yang benar-benar berakhlak tidak akan memanfaatkan kebaikan orang lain. Sebab menjadi terlihat alim itu mudah. Tetap adil saat punya kesempatan untuk berbuat zalim, itu yang jauh lebih sulit.

Akhlak tidak diuji saat dipuji. Akhlak diuji saat seseorang punya kesempatan berbuat zalim, tetapi memilih tetap adil

Berjubah Alim. Ternyata Zalim
Silahkan dibagikan