Dibalik Dinamika Kekuasaan

Penulis: Hendrajit – Direktur Eksekutif Global Future Institute

Dalam lintasan sejarah politik, terdapat cerita-cerita dibalik dinamika kekuasaan yang mencatat peristiwa bersejarah, di mana kekuasaan dan intrik politik melibatkan tidak hanya pemerintahan formal, tetapi juga dinamika internal dalam keluarga penguasa.

Seperti halnya kepemimpinan Ferdinand dan Imelda Marcos[1] yang menghadapi perlawanan internal dari kelompok yang masih mempertahankan akal sehat, demikian pula, investigasi yang dilakukan oleh Bocor Alus Politik Tempo menyingkapkan pertarungan senyap di ring satu keluarga Jokowi. Fokus utama pada pandangan dan ketidaksetujuan yang mungkin muncul dari tokoh sentral, yaitu bapak presiden, memberikan pandangan mendalam tentang ketegangan dan kompleksitas yang berkembang di balik tirai kekuasaan.

Tulisan yang saya sampaikan ini, mengungkapkan paralel menarik antara dua periode politik yang berbeda, di mana “perang senyap keluarga” bisa menjadi pemicu perubahan besar dalam peta politik sebuah negara.

Dibalik Dinamika Kekuasaan

Paralelisme Sejarah – Manila 1983

Pada tahun 1983, kekuasaan Ferdinand Marcos dan Imelda di Filipina mencapai puncaknya. Namun, kebijakan nepotisme dan penunjukan jabatan strategis berdasarkan loyalitas politik daripada kompetensi membawa dampak buruk. Ferdinand Marcos dan Imelda bukan cuma presiden Filipina dan ibu negara. Pada puncak kekuasaan mereka, masing masing punya kroni dan kubu politiknya sendiri-sendiri. Sehingga penyusunan kabinet dan jabatan strategis ditentukan pasangan suami istri itu.

Sialnya, orang-orang dari kroni Imelda tidak ada yang kompeten dan profesional pada bidang keahliannya kecuali menjilat penguasa. Salah satunya adalah Jenderal Fabian Ver panglima angkatan bersenjata.

Alhasil saat Benigno Aquino senator dan politisi oposisi rejim Marcos pulang ke Manila dan tewas tertembak, Fabian Ver orang nomor satu di tentara jadi pusat kecurigaan. Yang pada akhirnya publik menuduh Marcos sebagai dalang pembunuhan Aquino.

Sejak itu selain serangan publik Filipina maupun Internasional makin gencar pada Marcos, pertarungan dan intrik dalam istana juga makin tajam. Menariknya, yang berkembang kemudian adalah perang senyap kroni Imelda vs Marcos.

Untungnya kroni Marcos ada Jenderal Fidel Ramos yang ayahnya, Narcisco Ramos, pernah jadi Menlu, merupakan pamannya Marcos. Juga di kubu Marcos masih ada Juan Ponce Enrile. Fidel Ramos dan Ponce Enrile termasuk yang masih berakal sehat.

CIA yang pada 1986 menilai Manila semakin genting, memanfaatkan perang senyap antar ring satu keluarga Marcos dan Imelda sebagai bahan bakar pergantian rejim. Dan CIA agaknya berpihak pada kroni Marcos dan mengorbankan kroni Imelda.

Dalam apa yang sejarah kelak kita kenal sebagai EDSA REVOLUTION 1986, Ponce Enrile dan Ramos tiba-tiba menyeberang dari pemerintahan Marcos dan bergabung bersama Corazon Aquino, istri mendiang Benigno Aquino, yang baru saja menang pemilu tapi hasilnya dicurangi Marcos. Sejak tewasnya Benigno, Corazon praktis jadi simbol perlawanan terhadap rejim Marcos.

Puncaknya ketika Corazon menang tapi Marcos tak mau ngaku kalah. Akhirnya People Power menumbangkan Marcos tak terbendung lagi. Marcos tumbang. Corazon Aquino terpilih sebagai Presiden hasil pemilu demokratis. Juan Enrile jadi Menhan dan Ramos jadi Panglima Militer baru Filipina.

Dibalik Dinamika Kekuasaan: Antara Imelda Marcos dan Ibu Iriana – Keseimbangan dan Konflik di Istana

Dinamika Kekuasaan

Fast forward ke tahun 2023, kenapa saya tiba-tiba ingin menulis kembali kronik ini? Karena di Bocor Alus Politik Tempo yang saya simak tadi, mengangkat tema rekayasa Ibu Iriana, istri Presiden Jokowi, dalam mengondisikan Gibran sebagai Presiden sejak Juni 2023 lalu.

Catatan sejarah tersebut mengundang perhatian, terutama ketika media seperti Bocor Alus Politik Tempo menyuguhkan temuan terkait kemungkinan rekayasa politik. Fokusnya adalah Ibu Iriana, istri Presiden Jokowi, yang dikabarkan mencoba mengondisikan Gibran sebagai calon presiden sejak Juni 2023.

Paralel antara kisah Marcos dan Jokowi menjadi semakin mencolok ketika Tempo mengekspos perlawanan dalam keluarga pemimpin. Seperti halnya Juan Ponce Enrile dan Fidel Ramos yang menentang Marcos pada zamannya, tampaknya ada kegelisahan dari pihak keluarga Jokowi yang lebih rasional terhadap tindakan-tindakan yang diambil oleh bu Iriana dan ring satu keluarganya.

Investigasi Tempo mengisyaratkan bahwa perlawanan senyap mungkin muncul dari jalur bapaknya Jokowi, mirip dengan peran Ramos dan Enrile di Filipina. Apakah ini hanya rangkaian kebetulan ataukah ada benang merah yang menghubungkan intrik politik dalam keluarga pemimpin dari dua era yang berbeda?

Seperti juga ulah Imelda Marcos yang nggak masuk akal, akhirnya memantik perlawanan dari ring satu keluarga Marcos yang masih berakal sehat, investigasi Tempo ini saya lihat juga mengisyaratkan perlawanan senyap ring satu keluarga Jokowi, terutama dari jalur bapaknya, terhadap ulah ibu Iriana dan ring satu keluarganya yang makin nggak masuk akal.

Saya menulis hal ini untuk memberikan pemahaman tentang dinamika politik internal yang dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Jokowi. Sebagai pembaca, mari kita merenung pada perjalanan sejarah yang merajut politik dan kekuasaan, serta mengupas intrik-intrik yang mungkin memainkan peran kunci di dalam koridor kekuasaan yang seringkali tak terlihat.

Dibalik Dinamika Kekuasaan

Source

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Conjugal_Dictatorship_of_Ferdinand_and_Imelda_Marcos

Silahkan dibagikan