Komunitas Bukan Tentang Gengsi, Tapi Tentang Komitmen

Komunitas Bukan Tentang Gengsi, Tapi Tentang Komitmen. Yo guys! Ada satu hal yang sering luput dipahami saat kita bergabung dalam sebuah komunitas: bahwa kehadiran lo itu jauh lebih penting daripada nama lo. Apalagi dalam ruang kolektif, yang bukan sekadar tempat pamerin karya, tapi wadah buat tumbuh, berbagi ide, berjejaring lintas latar belakang dan generasi.

komunitas

Terlihat Mulus

Di balik kegiatan apa pun jenisnya yang ‘kelihatan mulus’ di permukaan, so pasti ada kerja keras yang rumit dan gak sedikit keluarin duit, kayak misalnya nih: ngurus kurasi, bikin desain flyer, backdrop, cari sponsor, reminder peserta, urus konsumsi, parkiran, bahkan mastiin speaker gak feedback atau mati di tengah kegiatan berlangsung. Semua itu lancar karena ada teman-teman yang bener-bener hadir—secara fisik, mental, dan kontribusi.

Lo tau gak guys? Pernah ada nih, satu komunitas yang suatu ketika menerapkan satu hal sederhana, yaitu: Bagi anggota yang nggak bisa hadir dalam kegiatan workshop atau event komunitas, akan dikenakan kontribusi tambahan berupa denda Rp50–100 ribu. Wuiih langsung ada beberapa yang protes bilang kayak gini: OBJECTION. OVERRULED.

Tenang guys! Kalo lo nemuin aturan begitu, bisa jadi ini bukan aturan kaku atau berlebihan. Lo gak usah sekate-kate juga sama salah satu tim yang infoin aturan itu. Secara lo bisa kasih ide untuk opsi yang lain, selain lo teriak keberatan itu tadi. Ada beberapa komunitas yang memberikan denda dengan membuat opsi lain. Buat yang keberatan karena alasan finansial, bisa pilih misalnya, cukuplah share tiga atau empat postingan Instagram komunitas lo ke status WhatsApp dan IG Story pribadi.

Apalagi kalau ada yang ngadain workshop. Lo tau kan, workshop—itu bukan cuma ajang kumpul, tapi juga nambah wawasan, belajar langsung dari narasumber keren, dan dapet insight yang gak lo temuin di tempat lain. Udah gitu, bonus lainnya, kalo tim di komunitas lo bisa ngadain sponsor makanan dan minuman atau jenis lain, mereka termasuk lo juga, dapet tuh bonus dari sponsor. Pengeluaran lo buat ke tempat workshop masih gak seberapa dibanding ilmu dan benefit lain yang bakal lo dapet.

komunitas

Inti Permasalahannya

Bukan soal uangnya, tapi soal komitmen dan empati.

Denda kecil yang terkadang diberlakukan oleh beberapa komunitas, itu bukan buat “ngabisin duit mereka,” tapi sebagai pengingat bahwa kehadiran dan kontribusi tim yang bekerja, harus dihargai. Teman-teman lain yang udah hadir, bantuin nyiapin, dapetin sponsor, bahkan cari pengunjung—itu semua layak dihormati. Ketidakhadiran yang terus dimaklumi, justru bikin upaya tim yang bekerja, jadi effort mereka terasa sia-sia dan nggak dihargai. Coba bayangin, seandainya lo ada di posisi mereka? Gimana hayoooo??? Mau gak kalo lo gak dihargai???

Dan jujur aja, kalau lo pribadi punya aset ratusan juta bahkan miliaran, tapi keberatan keluarin 50–100 ribu rupiah demi kepentingan bareng-bareng—lo harus tanya ke diri sendiri: kebersamaan lo di mana? Toh laporan keuangan dan agenda kegiatannya jelas kan?
Lagi-lagi itu semua bukan soal nominal. Tapi soal itikad. Karena komunitas yang baik dan benar, pasti dibangun dari niat baik dan kontribusi kecil yang konsisten.

komunitas

Denda? Overruled!

Aturan denda buat yang sibuk dan gak bisa hadir karena ada bisnis atau kerjaan lain yang lebih penting, yang kisarannya 50-100 ribu rupiah itu normal dan wajar banget—bahkan sehat buat jenis komunitas aktif, kreatif, inklusif atau pun lintas generasi. Lagian lo gak bisa dateng karena ada bisnis / proyek gede yang hasilnya bisa buat lo beli aset harga milyaran bukaaan? Kok 50-100 ribu rupiah aja lo teriak keberatan?

Kenapa Nominalnya Masih Wajar?

  1. Komunitas Bukan Klub Pasif

Kalau semua orang cuma mau “permisi, numpang lewat” tapi gak ada kontribusi, perkumpulan apa pun jenisnya, bisa jadi sekadar label kosong. Aturan kayak denda atau share postingan adalah bentuk komitmen minimal yang masuk akal.

  1. Denda = Disiplin Sosial, Bukan Komersil

Denda 50–100 ribu rupiah itu simbolis. Komunitas lo gak nyari untung dari denda, tapi ngingetin bahwa absensi seenaknya bisa bikin kerja tim lain jadi berat. Dan lo bisa di kasih opsi alternatif (share 3 story)—itu fleksibel, adil, dan suportif.

  1. Udah Akomodatif

Bukan langsung coret nama atau blacklist, tapi masih dikasih pilihan kontribusi lain yang non-finansial. Itu menunjukkan lo masih dikasih ruang. Jarang ada loh komunitas punya keseimbangan kayak gini.

komunitas

Kalau Overruled Itu…

Misalnya lo sebagai ketua komunitas kasih aturan dengan minta denda jutaan rupiah, atau harus ganti rugi dalam bentuk lukisan mahal atau beberapa foto eksklusif—nah itu baru overruled. Tapi masih dalam bentuk wajar dalam konteks yang:

✅ Dendanya ringan,

✅ Ada opsi non-uang,

✅ Alasannya jelas,

✅ Dampaknya nyata buat semua anggota komunitas.

Wajar kok kalau ada suatu komunitas setting standard biar komunitas mereka gak jadi tempat “asal numpang lewat doank”. Dan itu justru langkah dewasa dalam membangun komunitas yang sehat, mandiri, dan profesional.

komunitas

OMG! Gue SIBUUUKKK…!!

Kalau pake alasan “sibuk”—yuk kita jujur bareng-bareng: semua yang terlibat di komunitas apa pun, juga punya kesibukan masing-masing.
Ada yang kerja full time, ada emak-emak yang urus keluarga, ada yang lagi ngerjain proyek dan bisnis lain. Tapi esensinya bukan tentang sibuk atau punya waktu lebih, melainkan tentang mau meluangkan waktu, ngasih ruang dalam hidup masing-masing buat sesuatu yang di anggap penting dan saling menghargai kerja tim komunitas.

So guys, komunitas apa pun jenisnya, bukan dibangun dari banyaknya nama, tapi dari sedikit orang yang hadir dengan sepenuh hati.

Jangan Egois!

Karena pada akhirnya, bukan soal lo itu siapa, kerja di mana, tajir atau miskin, punya followers berapa dan sebagainya. Tapi seberapa besar lo mau ikut merawat kebersamaan dan kegotongroyongan.

Please, jangan egois guys! Jangan jadi si paling sibuk. Semua juga punya kesibukan, gak cuma lo doank. Pikirin juga effort temen-temen di komunitas lo yg luangin waktu buat kepentingan bersama. Temen-temen di komunitas lo itu ada buat lo, serta merta ikhlas gak dibayar ngebantuin lo untuk ngebranding nama dan karya-karya lo tanpa lo minta, bukan jadi kacung kampret lo. Hargailah mereka!

komunitas
Silahkan dibagikan