Pertemuan Pertama Begitu Dungu, Selanjutnya, Terserah Kamu!

Pertemuan Pertama Begitu Dungu, Selanjutnya, Terserah Kamu! Alih-alih tentang pertemuan, konon katanya, terlepas apakah pertemuan pertama atau pertemuan yang kesekian kalinya, jika pertemuan itu strategis tapi dibarengi dengan suasana yang nampak “romantis” alias rokok dan makan gratis, justru malah jadi parade topeng. Semua hadir, tapi dengan niat masing-masing. Senyum dilempar, jargon disampaikan, tapi di balik meja, ada peta yang sedang digambar diam-diam. Aaah… apa iya?

Terkadang, yang paling aktif bicara, belum tentu paling aktif dalam niat tulusnya. Dan yang paling diam… bisa jadi sedang menyusun langkah lima babak ke depan. Apakah ada yang dungu? Aaah… jangan berprasangka seperti itu!

pertemuan pertama

Tentang Silent Partner di Pertemuan Sayur Lodeh

Selesai membaca tulisan Mas Agung Marsudi tentang “Silent Partner di Pertemuan Sayur Lodeh?” menurut saya, beliau menyentil dengan cara yang halus tapi tepat sasaran. Apalagi pada paragraf terakhir yang beliau tulis yaitu: Seperti iklan, “pertemuan pertama begitu dungu, selanjutnya terserah kamu”, menggelitik saya untuk membuat tulisan ini.

Besar harapan saya, pertemuan semacam itu semestinya jadi ruang menanam gagasan, bukan sekadar pertemuan ‘sayur lodeh’ sambil menebar tatapan dan senyuman.

Apakah mereka membawa komitmen, atau hanya membawa kalkulasi? Hmm… Entahlah! Siapa yang tahu? Tentunya kita jangan menjadi dungu dan patah hati saat salah dalam berkomitmen apalagi melakukan kalkulasi.

Apakah yang Tampak Dungu, Justru yang Paling Tahu Arah?

Pada umumnya, dalam suatu pertemuan penuh gestur manis dan formasi yang rapi, seringkali yang bersuara lantang justru tak lebih dari gema ego yang sedang cari panggung. Sebaliknya, mereka yang diam, hanya tersenyum simpul, mencatat pelan, tak berebut perhatian, justru terkadang dianggap tak paham situasi. Atau lebih parah lagi: dungu.

Dungu di Awal, Penentu Arah di Akhir

Justru kadang, yang tampak dungu di permukaan, adalah mereka yang sedang membaca peta. Mereka tak terburu-buru menanggapi, tak tergesa menyimpulkan, karena mereka tahu: dinamika forum bukan lomba cepat-cepat tampil, melainkan soal presisi dalam bersikap.

Dalam ruang diskusi, ketenangan sering disalahpahami sebagai ketidaktahuan. Padahal, bisa jadi itu bentuk kontrol diri yang matang. Bisa jadi, mereka yang tidak tergoda ikut arus justru sedang mengarahkan arus dalam diam. Tak semua yang vokal berarti visioner. Dan tak semua yang diam berarti tak punya posisi dan kecerdasan.

Karena sejarah mencatat, yang sering disebut dungu di awal, kadang justru jadi penentu arah di akhir.

dungu

Suara Tak Selalu Nyaring, Tapi Diam Menggetarkan!

Dalam pertemuan yang penuh dengan keramahtamahan dan bahasa yang teratur, kadang muncul satu momen yang membekas: ketika seseorang yang dianggap sebagai bagian dari kekuasaan justru membuka ruang dialog yang lebih jujur.

Bukan dengan pernyataan keras, tapi dengan pertanyaan sederhana, apa sebenarnya yang menjadi harapan dari mereka yang selama ini memilih berada di luar lingkar kekuasaan?

Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi sejatinya menunjukkan niat baik: bahwa ruang diskusi seharusnya tak melulu soal mendominasi, melainkan juga mendengarkan. Bukan hanya untuk sekedar mengamankan posisi, tapi juga membaca aspirasi yang beragam.

Di tengah kegaduhan yang sering kita saksikan, keberanian untuk bertanya dengan tulus seperti itu justru jadi isyarat penting.

Dan di sini, kita belajar satu hal: kadang yang terlihat diam, justru sedang mengolah makna. Yang tampak sederhana, mungkin menyimpan pemahaman yang dalam. Yang semula kita anggap “tak paham arah”, atau dianggap dungu, justru bisa jadi adalah yang paling tenang karena tahu persis ke mana tujuan.

Dalam percakapan yang sehat, tidak selalu yang paling nyaring yang paling mengerti. Terkadang, ketenangan dan kesediaan untuk menyimak bisa menjadi kunci terpenting dalam merumuskan arah bersama.

dungu

Ada yang Duduk Menanti, Ada yang Berdiri Menyusun

Sekilas dari pengamatan saya, pertemuan ‘sayur lodeh’ itu nampak tenang, tapi jadi semacam tempat uji nyali. Secara tersirat, nampak pula siapa yang berani bicara tanpa filter, siapa yang mencairkan ketegangan, siapa yang berputar di kalimat aman. Siapa yang mau turun ke jalan dan siapa yang mau terbang melesat.

Dan di tengah semua itu, muncul bisik-bisik pertanyaan paling mendasar:

Mau tetap duduk sambil saling memandang, atau ikut turun tangan, biar jelas arah juang?

Karena politik, sejatinya bukan soal pencitraan, tapi soal posisi dan keputusan. Gak semua harus sepakat, tapi semua perlu tegas dalam berpendapat demi membela kepentingan rakyat!

pertemuan pertama

Masih Diam? Jangan Kaget Kalau Arahmu Ditentukan Orang Lain

Diam itu pilihan. Sama seperti mau hidup bahagia, juga pilihan! Tapi dalam ranah politik, terlalu lama diam malah jadi blunder dan bisa bikin banyak orang gak bahagia. Kalau kamu gak bersuara, orang lain akan bicara atas namamu. Kalau kamu gak tegas tentukan arah, maka arah akan ditentukan…bukan oleh visi, tapi oleh kalkulasi.

dungu

Ruang Dialog Bukan Panggung Basa-Basi

Wahai kamu semua…iya, kamu! Kamu, kamu, kamu, kamu dan kamu yang hadir di pertemuan dengan senyum sopan tanpa kedunguan!

Sepertinya publik berharap bahwa pertemuan ‘sayur lodeh’ ini seharusnya jadi ruang dialektika, bukan arena kosmetika. Di sinilah sikap diuji, bukan dimanipulasi.

Jika arah perjuangan masih blur semakin kabur, lebih baik hentikan sandiwara, sebelum publik muak dan tertawa.

Ruang dialog bukan panggung basa-basi, dengan hidangan sambal tanpa terasi, tapi ladang tukar pikir dan uji nyali.

Sejarah tak pernah ditulis oleh mereka yang sibuk menjaga kubu tetap aman, tapi oleh mereka yang berani bicara walau beda pandangan.

Ini bukan wejangan dari tokoh ternama, tapi ini hanya saran pelan dari saya, rakyat jelata yang hidupnya penuh dengan perjuangan!

Jalan lurus kadang terasa sunyi, tapi di situlah harga diri diuji.
Mau tetap duduk sambil saling memandang, atau ikut turun tangan, supaya jelas arah juang?

dungu

Akhir Kata… Salam Sayur Lodeh, Terserah Lo Deh! Ubur-Ubur Ikan Lele, Sak Karepmu Leee…!

Pertemuan ‘sayur lodeh’ diharapkan tidak membuat kita menjadi dungu…
Wajah tersenyum, tapi apa niatmu? Sepertinya tak satu?
Mungkinkah langkahmu ragu dan sikap pun semu?
Ya sudah… selanjutnya, terserah kamu!

Sayur lodeh tidak terasa nikmat kalau cuma diseruput kuahnya,
perjuangan pun tak utuh kalau cuma nonton dari jendelanya.
Mau ikut masak, atau diam di balik jendela? Mau ikut jadi pemeran, atau cuma penikmat drama? Semua pilihan ada di kamu, iya termasuk kamu semua yang ada di pertemuan ‘sayur lodeh’ itu!

Tapi ingat wahai kamu…kamu…kamu…kamu dan kamu! Rakyat bisa bosan dan ogah, kalau yang disajikan cuma lakon tanpa arah.

Akhir kata… Salam sayur lodeh, terserah lo deh! Ubur-ubur ikan lele, sak karepmu leee…!

dungu
Silahkan dibagikan