
Warna Rosi: Simfoni Lintas Budaya
Warna Rosi: Simfoni Lintas Budaya. Halo sobat Komunitas Sambal! Ngomong-ngomong, kalian pernah gak membayangkan sebuah kanvas yang diwarnai bukan oleh kuas, tetapi oleh jari telunjuk sang seniman? Jari telunjuk tersebut, menghadirkan goresan yang menceritakan lebih dari sekadar bentuk dan warna. Dalam setiap sapuannya, ada kisah tentang hidup, cinta, dan harmoni yang berputar tanpa awal dan akhir.
Nah, inilah cara Rosi, seorang pelukis yang terinspirasi oleh humanisme serta perpaduan budaya Timur dan Barat, mengekspresikan perasaannya—bukan hanya melalui seni rupa, tetapi juga melalui pesan mendalam tentang humanisme dan keindahan hidup. Yuk kita simak selengkapnya, hasil wawancara Komunitas Sambal bersama pelukis hebat yang satu ini.

Rosi: Pelukis Indonesia yang Menginspirasi
Ni Nyoman Rosita Ujianti Yordey, lahir di Banyuwangi, Indonesia, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Ia merupakan putri dari ayah yang berasal dari Bali dan ibu yang berasal dari Jawa.
Meskipun awalnya Rosi bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di bidang seni rupa, impian tersebut harus kandas, dan ia akhirnya menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan akuntansi. Namun, hasratnya terhadap seni tetap membara di dalam dirinya.

Pengalaman Rosi
Rosita, yang akrab dipanggil Rosi, menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Widya Gama, Malang, dan mengawali kariernya di industri pariwisata. Pengalaman kerjanya dimulai di beberapa hotel mewah di Bali, seperti Ritz Carlton dan Four Seasons, yang berlokasi di Nusa Dua, Jimbaran, dan Ubud. Ia kemudian melanjutkan kariernya di Maldives, memperluas wawasan dan keterampilannya dalam industri tersebut.
Setelah pindah ke Strasbourg, Prancis, Rosi menikah dan pada tahun 2013 mendirikan salon pijat bernama AYU bien-être. Meskipun terjun dalam bidang bisnis, seni selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.
“Suami saya memiliki karier sebagai seorang programmer. Ia sangat tertarik dengan budaya Indonesia dan bahkan bisa berbicara sedikit dalam bahasa Indonesia. Hampir setiap tahun, kami sekeluarga, termasuk anak-anak, pulang kampung ke Bali untuk merayakan dan merasakan kembali akar budaya yang saya bawa,” ujar Rosi.
Sejak kecil, Rosi terlibat dalam budaya Hindu, belajar menari, dan aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi tari di Indonesia. Namun, di antara berbagai bentuk ekspresi seni, melukis adalah yang paling membangkitkan jiwanya, meskipun awalnya tidak mendapat banyak dorongan dari orang tuanya.
Di Prancis, Rosi mulai menemukan ruang untuk mengekspresikan bakat seni lukisnya dan berhasil memamerkan karyanya dengan nama Rosi. Lukisannya telah dipamerkan di berbagai tempat di Strasbourg, termasuk Villa Schutzenberger (2018), Hotel Régent Petite France (2019), Hotel Boma (2021), dan Quai des Arts (2022).

Karya Rosi
Karya seni Rosi dikenal karena keindahan warnanya yang mencolok, sering kali menggambarkan pemandangan alam, pepohonan, dan tempat-tempat yang dia kunjungi selama perjalanannya, semuanya disajikan dengan interpretasi khasnya. Rosi mengaplikasikan cat minyak langsung ke kanvas menggunakan ujung jarinya, tanpa bantuan kuas, sehingga ia dapat merasakan kedekatan dengan materi lukisannya.
Sebagian besar lukisannya berukuran 100cm x 100cm, meskipun ia juga mengeksplorasi format lain seperti 30cm x 60cm dan 150cm x 120cm, memberikan variasi dan dimensi yang berbeda pada karyanya.
Pengalaman Rosi tidak hanya memperkaya pemahamannya tentang budaya dan estetika, tetapi juga memperluas pandangannya tentang interaksi manusia di berbagai latar belakang budaya. Semua ini menjadi inspirasi dan pengaruh yang kuat dalam setiap karya seni yang dihasilkannya.
Karya pertama yang dibuat oleh Rosi adalah lukisan seorang penari Bali. Lukisan ini menjadi awal dari perjalanan artistik Rosi, di mana ia mulai mengekspresikan kecintaannya terhadap budaya dan seni melalui medium kanvas serta goresan jari telunjuknya. Sebagai seseorang yang memiliki ikatan kuat dengan Bali, karya ini tidak hanya merefleksikan keindahan tarian tradisional Bali, tetapi juga menjadi simbol dedikasi dan penghormatan Rosi terhadap akar budayanya.

Warna Rosi
Dalam pameran seni tunggalnya yang bertema “Warna Rosi”, beliau hadir untuk berbagi wawasan mengenai karyanya. Setiap lukisan yang dihasilkan adalah cerminan dari pikiran, perasaan, dan pengalaman hidupnya, yang terinspirasi dari perpaduan budaya Indonesia dan Prancis. Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, teknik melukis yang ia gunakan juga sangat unik dan tidak biasa—Rosi tidak menggunakan kuas, melainkan hanya menggoreskan warna dengan satu jari tangan, yaitu jari telunjuk.
Makna dari goresan lukisannya berkaitan dengan humanisme, sirkulasi hidup, dan lingkaran yang berputar tanpa awal dan akhir. Menurut Rosi, satu sama lain saling membutuhkan, harus saling menghormati, serta berdamai dengan alam, manusia, dan Tuhan. Melalui goresan jari ini, Rosi mampu mengungkapkan perasaannya secara mendalam dan otentik.
“Pada awalnya, melukis hanya sekadar hobi. Namun, karya-karya yang saya hasilkan adalah ungkapan batin yang muncul secara spontan dan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lukisan-lukisan ini bersifat otentik dan tidak akan pernah direproduksi,” ungkap Rosi.
Pameran ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan perjalanan pribadi Rosi, tetapi juga untuk memperkaya pemahaman tentang kekayaan seni rupa Indonesia dan Prancis. Setiap karya yang dipamerkan mengajak pengunjung untuk merasakan kedalaman emosi dan makna di balik setiap sapuan warna. Pameran ini juga berfungsi sebagai jembatan antar budaya, mendorong dialog tentang keragaman dan penerimaan budaya, serta menantang stereotip yang ada.

Sarana Komunikasi Budaya Melalui Seni
Pameran “Warna Rosi” di Indonesia, salah satunya telah diselenggarakan pada tanggal 12 hingga 13 Agustus 2024 yang lalu, di INSTITUT FRANÇAIS INDONÉSIE – IFI Wijaya dari pukul 09:00 hingga 17:00 WIB. Acara ini dimaksudkan sebagai sarana komunikasi budaya melalui seni, baik yang telah diinisiasi oleh Rosi sendiri maupun beberapa undangan kegiatan internasional di Strasbourg, Prancis. Pameran ini akan lebih bermakna jika hubungan tersebut kemudian terus terjalin di tanah air, Nusantara.
Tujuan utama dari pameran ini adalah untuk berbagi wawasan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia serta pengalaman Rosi dalam mempelajari budaya Prancis selama bertahun-tahun berkarya. Diharapkan melalui eksibisi ini, para pengunjung dari berbagai usia, terutama anak-anak, remaja, dan penikmat seni muda, dapat menikmati pengalaman pembelajaran yang menyenangkan.
Pameran ini juga menawarkan dinamika warna yang diatur dengan apik, sehingga memberikan efek “visual healing” bagi yang menikmatinya. Selain itu, pameran ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan kedua negara yang sudah berjalan baik selama ini.

Kesimpulan
Pameran seni tunggal Rosi, yang bertajuk “Warna Rosi,” bukan hanya sebuah perayaan karya seni, tetapi juga sebuah ekspresi mendalam dari perjalanan hidup dan pandangan dunia sang pelukis.
Melalui teknik unik menggunakan jari telunjuk sebagai alat lukis, Rosi berhasil menggabungkan elemen-elemen budaya Indonesia dan Prancis, serta menyampaikan pesan tentang humanisme, sirkulasi hidup, dan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Pameran ini tidak hanya memperkaya wawasan seni para pengunjung, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan antar budaya, memperkuat hubungan antara Indonesia dan Prancis. Dengan demikian, Rosi tidak hanya sekadar mengekspresikan perasaannya melalui seni, tetapi juga menginspirasi dialog dan pemahaman yang lebih dalam tentang keragaman budaya.




