Egaliter Beneran Gak Nyinyirin Gelar Orang

Egaliter Beneran Gak Nyinyirin Gelar Orang. Di era digital, semua orang bisa bersuara, termasuk mereka yang ngaku pro-rakyat, anti-feodal, dan ngebela keadilan sosial. Tapi kadang, di tengah semangat “kritis” itu, muncul juga yang ngegas ke orang-orang yang pada pakai gelar:

“Ngapain sih nyantumin Raden Roro? Kayak paling bangsawan!”
“Kenapa lo mesti cantumin gelar akademik segala? Norak.”

Sekilas terdengar woke. Tapi kalau lo bedah pelan-pelan, ini bukan soal membela rakyat, anti feodal atau keadilan sosial, ini soal sok egaliter tapi judgmental, yaitu nyinyirin atau merendahkan orang yang dianggap “elit”. Hmmm….kalo judgemental gitu, apa karena iri dengki?

egaliter

Egaliter Itu Apa, Sih?

Egaliter itu sikap menghargai semua orang tanpa memandang status sosial, jabatan, gelar, atau latar belakang. Lo bisa egaliter dan tetap sopan ke tukang parkir. Tapi lo juga bisa egaliter dan tetap hormat ke dosen lo yang udah nyentuh umur 60 tahun dan punya gelar profesor.

Karena poin utamanya nih: semua manusia layak dihargai, regardless of background.

egaliter

Tapi Kadang…Tricky!

Sikap sok egaliter itu tricky. Ya itu tadi, kelihatannya sih seolah-olah membela “yang kecil”, padahal aslinya judgmental. Padahal… eh, siapa lo? Kalau lo ngejudge orang hanya karena dia punya title, lo bukan lagi memperjuangkan kesetaraan, tapi ada gelagat balas dendam sosial yang dibungkus idealisme.

egaliter

Lo Boleh Kritik Sistem, Tapi Jangan Serang Orang

Kalau lo beneran mau kritis, kritiklah sistem yang bikin pengetahuan dan akses hidup jadi eksklusif. Kritiklah mindset yang menindas, bukan sekadar simbol atau atribut sosial seseorang. Gimana? Sampai di poin ini lo paham gak? Intinya, lo jangan subyektif. Karena banyak debat di medsos atau obrolan sosial itu kacau gara-gara semua orang bawa subjektivitas masing-masing, terus merasa paling benar.

Padahal, kalau semuanya subjektif, ya gak akan pernah ketemu titik tengah. Makanya penting banget belajar:

✅ Mana opini pribadi

✅ Mana argumen berbasis fakta

✅ Mana yang sekadar feeling doang

Karena gini lho, percaya atau enggak, banyak banget orang bergelar, bangsawan, atau “privileged” yang justru mereka pakai posisi tersebut buat bantu orang lain. Mirisnya…banyak juga yang ngaku “biasa aja”, eh tapi kerjanya cuma ngata-ngatain. Capek deh!

Jadi… Kalau lo bilang: “Gue alergi sama opini-opini subjektif.”

Itu berarti lo:

✅ Lebih suka diskusi yang punya dasar argumen kuat.

✅ Menghindari komentar yang cuma berdasarkan selera pribadi.

✅ Mau mikir lebih dalam dari sekadar “rasanya…atau kayaknya…”

Itu bagus banget. Karena akal sehat harus lebih kenceng dari selera pribadi, kalau kita mau tumbuh jadi orang yang berpikir jernih dan adil.

egaliter

Biar Gak Tersesat Dalam Kebencian yang Tersamar

Being woke itu bukan tentang seberapa keras lo marah ke sistem.
Being truly egalitarian adalah saat lo bisa ngobrol sama siapa aja dengan respek yang sama besar.

Karena egaliter beneran, gak sibuk mengukur derajat orang dari gelarnya, tapi dari kontribusinya.

Kalau lo ngaku pejuang kesetaraan, tapi gak bisa bedain antara simbol dan substansi… ya, lo bukan woke. Lo cuma nyinyir.

egaliter

Akhir kata…

Kalau mau setara, mulai dari cara lo memperlakukan orang.
Bukan dari seberapa lantang lo nolak kebangsawanan atau gelar seseorang karena hal itu lo anggap feodal, tapi dari seberapa tulus lo melihat orang, apa pun status sosialnya — sebagai manusia.

Untuk bersikap menghargai seseorang, gak butuh panggung kok, tapi cukup hadir dan menghargai. Sederhana kan? Iya, tapi powerful.

Silahkan dibagikan